gravatar

Syarat Murah dan Mutunya Pendidikan

Bermutu memang identik dengan harga yang mahal. Bahkan ada satu frasa yang cukup dikenal luas oleh masyarakat kita bahwa 'uang tahu barang', artinya harga barang yang berkualitas tidak akan sama dengan harga barang yang tidak berkualitas. Tentu saja, barang yang bermutu tidak akan begitu saja dijual murah kepada pembeli.

Kondisi mengapa setiap produk yang berkualitas selalu mahal akan terlihat jelas setelah pembeli sebagai konsumen menawar produk itu dengan harga yang murah. Hal yang bisa dipastikan adalah munculnya argumen-argumen si penjual tentang alasan mengapa produk tersebut dijual mahal. Pertama, produk yang dimaksud termasuk produk langka yang jauh lebih baik dari produk-produk sama lainnya. Kedua, proses terciptanya produk dan alur distribusinya dirasa sangat baik dan terjamin. Ketiga, penjual tidak akan pernah mau rugi, setidaknya modal kembali datang meski keuntungan dirasa kurang.

Jika semua alasan tersebut sudah disampaikan, namun si pembeli masih mencoba untuk menawar produk tersebut, jangan kaget jika si penjual malah 'mengusirnya'. "Kalau mau berkualitas, ya pake duit. Kalau nggak mampu, nggak usah maksa. Kalau nggak mau juga, toh masih ada yang suka. Uang tahu barang, begitu kan?" Itulah mungkin beberapa ungkapan si penjual nantinya.

Ilustrasi tadi hanya sebuah gambaran kecil betapa sulitnya mendapatkan sesuatu yang berkualitas dengan harga yang murah. Murah dan Mutu, memang nampak sulit untuk disatukan, terlebih jika sesuatu yang dicari itu lebih kompleks dari sekedar barang dagangan. Pendidikan misalnya. Pendidikan tidak sesederhana produk yang dijual produsen atau distributor kepada konsumen. Artinya, polemik pendidikan jauh lebih rumit daripada sebatas menghasilkan barang kemudian menjualnya. Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu tidak mudah, dan untuk menghargai pendidikan bermutu dengan harga murah membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Meski demikian, pilihan mutu namun tetap murah masih bisa diwujudkan. Jika kembali pada ilustrasi tadi, boleh jadi si penjual akan memberikan produk tersebut dengan harga murah dengan cara menghemat biaya produksi dan distribusi, atau mencari dana tambahan untuk menutupi kekurangan tanpa menurunkan mutu barang yang dihasilkan.

Dari semua ilustrasi tadi, yang menjadi prioritas dan titik tekannya adalah pada mutu, bukan murah. Bagaimanapun juga, mutu harus dinomorsatukan. Namun hal ini tidak menghalangi cara bagaimana menghadapai permasalahan pendidikan di Indonesia agar lebih bermutu dan murah secara bersamaan.

Pada dasarnya, pendidikan yang baik harus memiliki standar mutu minimal yang jelas dan mampu dihadapkan pada era globalisasi. Setidaknya, ada empat sektor utama yang menjadi poros berjalannya pendidikan yang saling menguatkan. Keempat sektor itu adalah pengajar, sarana belajar, sistem pembelajaran, dan pelajar.

Sekolah dan perguruan tinggi, yang bertindak sebagai lembaga pendidikan, harus menyiapkan tenaga-tenaga pendidik yang berkualitas, kompetitif, dan loyal pada bidang ilmu yang dikuasainya. Penting untuk dipahami bahwa loyalitas seorang pengajar pada bidang ilmu yang dikuasainya, harus diperhatikan karena loyalitas akan menciptakan kreatifitas ke arah yang lebih baik bagi pendidikan. Jika hal ini kurang mendapat perhatian, maka akan banyak guru dan dosen yang mengajar tanpa dedikasi yang tinggi pada pendidikan.

Setelah itu, perlu disediakan sarana dan prasarana yang menunjang dalam proses belajar mengajar. Setidaknya beberapa laboratorium masing-masing disiplin ilmu dan ruang perpustakaan harus ada. Bagaimanapun juga, keberadaan laboratorium dan perpusatakaan adalah sarana penting yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Karena, laboratorium dan perpustakaan bertindak sebagai 'jantung' pendidikan. Keduanya saling terkait, yang dimaksud adalah kaitan antara teori dan praktik, dan sangat berguna bagi setiap orang yang terlibat dalam proses belajar mengajar.

Selanjutnya ada sektor sistem atau konsep pendidikan. Pada sektor ini, kita dihadapkan pada banyak hal seperti kurikulum dan intevensi pemerintah, visi dan misi di setiap masing-masing lembaga pendidikan, sertifikasi sekolah dan guru, dan lain sebagainya. Banyak hal yang harus direformasi sehingga kita memiliki konsep dasar yang jelas dalam menjalankan proses pendidikan. Ketidak-jelasan konsep ini telah banyak menimbulkan kendala di kemudian hari.

Globalisasi pendidikan yang tidak mungkin dibendung ini, tentu menjadi alasan utama mengapa kita perlu memperkuat sistem dan konsep pendidikan kita. Bagaimanapun juga, masyarakat Indonesia harus mampu bersaing dengan masyarakat internasional lainnya. Namun untuk yang satu ini, ada rambu-rambu yang harus dijaga. Persaingan di era globalisasi pendidikan harus diperjelas maksud dan tujuannya. Karena jika tidak demikian, maka hasil dari persaingan ini hanya akan menimbulkan dekadensi moral yang jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.

Persaingan dalam menghadapi globalisasi pendidikan, semestinya disikapi dengan sikap bahwa kita hidup sebagai 'universal human' atau manusia internasional. Artinya, kita telah diciptakan oleh Allah sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah yang bermuamalah atau bersosialisasi dengan komunitas lainnya. Glo-balisasi harus disikapi dengan sikap yang positif sehingga akan melahirkan persaingan yang positif juga. Tidak hanya menjadi konsumen produk global yang hanya menikmati barang-barang luar negeri namun kosong dari wawasan internasional, tidak tahu menahu kondisi kaum muslimin di Palestina atau bahkan tidak memiliki loyalitas sebagai muslim dan masyarakat dunia. Bukan itu yang kita maksud sebagi manusia universal. Sama sekali bukan itu!

Memang, tidak ada salahnya jika kita belajar dari negara lain jika mereka menguasai ilmu tersebut dan sudah dipertimbangkan soal lingkungan dan budaya setempat yang mungkin berbeda dengan lingkungan kita. Tapi jika kembali pada persoalan bagaimana kita meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita, maka yang terpenting adalah bagaimana menciptakan tenaga-tenaga pendidik yang berkualitas setaraf internasional. Maka dari itu, mungkin mahasiswa tidak perlu lagi belajar ke Saudi jika ingin belajar agama karena sudah banyak ulama-ulama di negara sendiri, atau tidak perlu lagi pergi ke Jepang jika ingin belajar teknologi karena sudah banyak ilmuwan-ilmuwan handal di negara ini. Sudah barang tentu, ini akan menghemat biaya para pelajar sehingga tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya, baik biaya transportasi maupun biaya hidup sehari-hari.

Yang menjadi masalah sekarang memang aneh, pelajar-pelajar yang mencari ilmu ke luar negeri tidak banyak yang menularkan ilmunya di negeri sendiri. Justru, tidak sedikit di antara mereka yang bekerja di negara luar setelah mereka berhasil sehingga tidak banyak perubahan di negeri sendiri. Tentu ini menjadi problem yang serius bagi masyarakat Indonesia kedepannya. Bagaimana tidak, program meningkatkan kualitas guru yang profesional tidak berjalan lancar karena orang-orang pintarnya malah bekerja di luar negeri.

Tapi untuk menyalahkan 'kesalahan' ini, tidak serta merta menjadi tanggung jawab mereka yang belajar dan bekerja di luar negeri. Banyak hal yang memicu mengapa kesalahan ini terjadi dan yang menjadi faktor utamanya adalah rendahnya dukungan pemerintah pada mereka yang sukses belajar di luar negeri. Dukungan yang dimaksud tidak hanya sebatas dukungan moril, tapi juga butuh dukungan materi. Memang agak terkesan materialistik, tapi itulah yang dibutuhkan. Bagaimanapun, rendahnya upah yang tidak sebanding dengan pekerjaan, seperti rendahnya upah guru, akan berdampak pada lemahnya kinerja guru. Mereka yang sudah sukes belajar di luar negeri, mungkin akan berpikir dua kali jika harus mengajar di dalam negeri dengan bayaran yang murah.

Dengan kata lain, tidak ada cara lagi selain meningkatkan anggaran bagi pendidikan yang sudah dijanjikan oleh pemerintah sebesar 20 persen itu. Kualitas pendidikan harus diwujudkan semaksimal mungkin. Kita bisa belajar dari sejarah di saat ummat Islam memegang kekhalifahan. Banyak dari kalangan kaum muslimin saat itu yang menjadi ulama, mujtahid, ilmuwan, tabib, dan profesi-profesi lainnya. Bahkan, mereka-lah yang menjadi cikal bakal peradaban selanjutnya. Seperti aljabar misalnya, ia adalah hasil karya dari seorang matematikawan muslim, al-Khawarizimi, yang kemudian berkembang pesat di seluruh dunia.

Jika ditelaah, kebanyakan dari mereka adalah kaum dhuafa yang mungkin 'mustahil' bisa begitu pintar dan mampu menjadi master. Jika bukan karena keseriusan para pemimpin kaum muslimin saat itu, mungkin para ilmuwan yang pintar ini tidak pernah ada.

Baghdad sebagai contoh. Di masa kekhalifahan Abbasiyah, ia adalah kota ilmu pengetahuan bagi seluruh masyarakat dunia. Di sana terdapat sebuah perpustakan yang menyimpan buku-buku pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum, dan beberapa lembaga pendidikan lainnya. Mereka yang belajar di Baghdad, bukanlah orang-orang kaya yang mampu secara materi. Justru, pemerintahlah yang kaya raya hingga mampu membiayai pendidikan bagi kaum muslimin.

Kondisi ini terjadi karena pemerintah mampu dan serius mengelola sumber pemasukan bagi negara yang dijadikan sebagai anggaran bagi pendidikan. Pemerintah benar-benar serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tentu saja, jika tidak serius dan berkualitas, mana mungkin ada ilmuwan-ilmuwan handal seperti Imam Syafi'i, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Khaldun, al-Khawarizmi, dan lain sebagainya.

Berkaca dari sejarah ini, pemerintah Indonesia harus lebih serius lagi dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang murah bagi rakyat. Anggaran sebesar 20 persen jangan hanya sebatas janji yang hanya sebatas wacana. Perlu keseriusan dan ketulusan dalam menyukseskannya. Harus ada tokoh-tokoh yang siap berlelah-lelah dan mengerahkan waktunya untuk urusan ini, dan tentu saja harus ada kerjasama yang terjalin utuh satu sama lain. Pendidik, pelajar, dan pemerintah, harus bekerjasama dalam menyukseskan pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Budaya cinta ilmu harus ditingkatkan di masing-masing pihak. Inilah kunci yang akan membangkitkan semangat yang mungkin telah mati akibat cinta dunia. Dengan tumbuhnya budaya cinta ilmu, semua pihak akan bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Yang berpangkat tidak akan terlena dengan jabatannya, yang kaya tidak akan terbuai dengan bisnisnya semata, yang sudah berhasil tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, dan yang kurang materi tdak pernah pantang menyerah. Jika semuanya sudah mencintai ilmu, maka semuanya bisa bekerja dengan serius dan tulus.

gravatar

Bener Kang Mas, mungkin mayoritas penduduk di negri ini sudah pada Cinta Dunia dan Takut Mati...

jadi amat sulit untuk menghidupkan atmosfir pendidikan yang handal dan berkualitas...

gravatar

Intinya satu, yakni SEMANGAT DALAM MENUMBUHKAN CINTA ILMU...

BACA... BACA.. dan BACA...